Siti Aisyah, Srikandi NTB Pendiri Zero Waste



Bagi banyak orang, sampah dianggap tidak berguna namun bagi pemilik ide kreatif, sampah membawa sebuah berkah. Bahkan sebagian orang menggeluti hal tersebut hingga sukses. Salah satunya yaitu Siti Aisyah, seorang pendiri Bank Sampah NTB Mandiri yang layak mendapatkan apresiasi dari Asuransi Syariah Indonesia untuk memajukan usahanya.

Sosok Siti Aisyah

Siti Aisyah lahir dari keluarga besar yang sederhana di Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Lahir sebagai anak pertama dari sebelas bersaudara membuatnya berjuang keras sejak kecil. Aisyah memilih SMK Pariwisata sebagai jalur pendidikan formalnya. Hal tersebut membuat Ia diterima bekerja di hotel berbintang di wilayah Lombok.

Karena tak mau bekerja terikat, setahun kemudian ia mundur bekerja di suatu biro perjalanan. Ia berkeliling di penjuru Asia dan mendalami budaya tiap negaranya dan juga mempelajari sistem pengelolaan sampahnya. Ia juga pernah beberapa kali berganti pekerjaan, dari berjualan bakso hingga menjadi produser sebuah film dan musik.

Usaha yang paling besar milik Aisyah adalah rumah makan yang terletak di Batam. Merasa jenuh dan ingin melebarkan bisnisnya, Ia lalu membawa usahanya tersebut ke Jogja. Ternyata di sana, ia merasa suasana terlalu lambat dan harga-harga semua terlalu murah. Ia kemudian pulang ke kampung halaman karena usahanya tidak lancar.

Terdorong Karena Keadaan Lingkungan

Aisyah tinggal di perkampungan padat di kota Mataram, NTB. Pemukiman padat penuh sampah dan banyak perempuan menganggur dan miskin membuat ia tergerak mencoba usaha kerajinan kain perca. Ia mendapatkan bahan dari penjahit di sekitaran rumah dan membeli sampah plastik seperti bungkus makanan dan botol plastik dari pemulung.

Kemudian Ia menghimbau warganya untuk menampung sampah rumah tangga ke rumah miliknya. Sampah tersebut ditabung dan menamakan rumahnya sebagai “Bank Sampah NTB Mandiri”. Sampah yang ditabung oleh ibu-ibu kemudian diberi buku tabungan serta diajak memproduksi kerajinan dari sampah plastik tersebut hingga sekarang menuai kesuksesan. 

Ketika semakin banyak sampah yang laku terjual, membuat banyak ibu rumah tangga yang terus tertarik dan tergabung. Kemudian Aisyah memberi banyak pelatihan dan pendampingan bahkan beberapa ada yang menjadi mitra produksi. Tak lama kemudian, kampung yang dulu kumuh kini terlihat tertata serta banyak anak muda ikut tergabung menjadi relawan.

Lorong di sekitaran kampung dicat dalam berbagai warna. Tempat pembuangan sampah kini terlihat seperti taman. Rumah warga juga terlihat lebih cantik. Aisyah menamakannya gerakan Kampung Wisata Kreatif Terpadu atau Kawis Krisan. Kampungnya menjadi yang pertama sebagai “kampung warna-warni” di Kota Mataram.

Kini dengan jaringan yang Ia miliki hingga tingkat Internasional, Aisyah membangun sekolah alam dan masuk ke desa-desa. Sekolah tersebut di bawah Yayasan Lombok Eco International Connection atau LEIC. Kesuksesan tak membuatnya pelit ilmu. Setiap pekan Ia diundang oleh komunitas untuk mengisi seminar dan membuktikan bahwa zero waste benar adanya.

Asuransi Syariah

Asuransi Syariah dengan konsep tolong-menolong dalam kebaikan sesama umat ini telah dicontohkan seperti tokoh inspiratif Siti Aisyah yang telah dideskripsikan sebelumnya. Asuransi yang menerapkan sistem anggota akan menghibahkan sebagian bahkan seluruh kontribusi yang akan digunakan jika ada peserta yang mengalami kecelakaan atau musibah.

Asuransi ini pas bila diberikan kepada sosok inspiratif seperti Siti Aisyah. Tak hanya mendapat keuntungan untuk dirinya sendiri, tapi juga orang-orang di sekitarnya. Produk dari Asuransi Syariah yaitu program #AwaliDenganKebaikan akan sangat membantunya dalam mengembangkan usaha. Produk Asuransi Syariah dapat dilihat di laman www.allianz.co.id